Kawruh Uttamopadesa memiliki corak pemikiran yang menempatkannya sebagai kawruh tentang kehidupan dan manusia. Dasarnya bukan kerumitan ajaran, banyaknya upacara, ataupun pencarian pengalaman gaib, melainkan pemahaman terhadap Prabhawaning Panguripan dan usaha manusia untuk menata dirinya melalui cipta, rasa, dan karsa.
Kawruh ini tidak dimaksudkan sekadar menjadi pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Kawruh Uttamopadesa mengajarkan manusia bagaimana memahami kehidupan, mengenali dirinya, memperbaiki cara berpikir dan merasakan, serta menata kehendak agar diwujudkan dalam perilaku yang selaras dengan tatanan kehidupan.
Karena itu, untuk memahami Kawruh Uttamopadesa secara lebih mendalam, terdapat beberapa ciri pokok yang membedakannya dari bentuk kawruh atau ajaran lainnya.
1. Bersumber dari Prabhawaning Panguripan.
Ciri pertama adalah sumber pemahamannya. Kawruh Uttamopadesa berpijak pada Prabhawaning Panguripan, yaitu pemahaman mengenai asal, daya, dan tatanan berlangsungnya kehidupan.
Prabhawaning Panguripan menjadi landasan untuk memahami kehidupan sebagaimana adanya. Dari pemahaman tersebut manusia kemudian berusaha mengenali kedudukannya sebagai bagian dari kehidupan, memahami hubungan dirinya dengan lingkungan, serta mengetahui bagaimana seharusnya menjalani kehidupan.
Dengan demikian, Kawruh Uttamopadesa tidak dibangun dengan mengambil dan menggabungkan berbagai ajaran lain menjadi satu susunan baru. Ia mempunyai landasan pemikiran sendiri.
Hal ini penting karena sebuah kawruh perlu memiliki dasar yang jelas. Tanpa dasar, suatu pemikiran mudah berubah menjadi kumpulan pendapat yang tidak memiliki arah.
Dalam Uttamopadesa, Prabhawaning Panguripan menjadi salah satu pijakan utama untuk mengembangkan pemahaman mengenai manusia, kehidupan, dan tata laku.
Kawruh Sejati kemudian dipahami sebagai pengetahuan yang lahir dari pemahaman terhadap kenyataan kehidupan, sedangkan Kawruh Kasunyatan merupakan usaha manusia untuk mendekati kenyataan tersebut melalui pembenahan cipta, rasa, dan karsa.
2. Tidak Mementingkan Kompleksitas Ritual.
Ciri kedua adalah tidak menjadikan kerumitan ritual sebagai ukuran utama keberhasilan manusia dalam menjalani kawruh.
Kawruh Uttamopadesa lebih menekankan pemahaman dan laku daripada banyaknya bentuk ritual yang harus dilakukan.
Hakikat manusia tidak dinilai terutama dari seberapa rumit tata cara atau ritual yang dapat dijalankannya, tetapi dari bagaimana pengetahuan atau kawruh yang dimilikinya dapat mempengaruhi dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Ritual dapat memiliki makna tertentu bagi manusia dan masyarakat. Namun, dalam kerangka Uttamopadesa, ritual bukan pusat utama perubahan manusia.
Pengetahuan atau kawruh yang baik seharusnya membawa manusia kepada pemahaman yang semakin jelas mengenai siapa dirinya yang sesungguhnya.
Pemahaman tersebut kemudian diwujudkan dalam laku. Dengan demikian, seseorang tidak berhenti pada mengetahui apa yang baik, tetapi berusaha menjalankannya.
Kawruh menjadi berarti ketika masuk ke dalam aspek kehidupan nyata.
Seseorang dapat mengetahui banyak ajaran tentang kejujuran, tetapi pengetahuan tersebut belum menunjukkan hasil apabila ia masih terbiasa berbohong.
Seseorang dapat memahami pentingnya pengendalian diri, tetapi pemahaman tersebut belum tentu menjadi laku apabila ia masih mudah dikuasai oleh dorongan dirinya.
Karena itu, ukuran pentingnya bukan kerumitan upacara, melainkan perubahan kualitas perilaku manusia.
3. Tidak Mengejar Hal-Hal Gaib atau Supranatural.
Ciri ketiga adalah Kawruh Uttamopadesa tidak menempatkan pencarian kekuatan gaib atau kemampuan supranatural sebagai tujuan utama.
Arah kawruh ini adalah memahami kehidupan dan memperbaiki manusia. Karena itu, perhatian diarahkan kepada hal-hal yang dapat dikenali melalui kehidupan nyata, seperti cara berpikir, cara merasakan, kehendak, dorongan, tindakan, hubungan dengan sesama, serta tanggung jawab terhadap kehidupan.
Pandangan semacam ini membuat Uttamopadesa tidak menjadikan pengalaman luar biasa sebagai ukuran keberhasilan seseorang.
Manusia tidak perlu mengejar kemampuan yang dianggap istimewa untuk disebut berhasil menjalani kawruh. Justru kemampuan untuk mengendalikan diri, berlaku jujur, menjaga hubungan dengan sesama, mengurangi pamrih, dan bertindak secara selaras merupakan hal yang lebih penting.
Dengan demikian, pusat perhatian dikembalikan kepada kehidupan manusia itu sendiri.
Kawruh tidak diarahkan untuk membuat manusia semakin jauh dari kehidupan sehari-hari, tetapi justru agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik.
4. Berpusat ke Dalam Diri Manusia: Cipta, Rasa, dan Karsa.
Ciri keempat merupakan bagian yang sangat penting dalam Kawruh Uttamopadesa, yaitu perhatian terhadap cipta, rasa, dan karsa.
Cipta berkaitan dengan kemampuan manusia dalam berpikir dan memahami. Rasa berkaitan dengan kemampuan manusia dalam merasakan dan menghayati. Karsa berkaitan dengan kehendak dan dorongan yang kemudian mengarah kepada tindakan.
Ketiganya saling berkaitan.
Apa yang dipikirkan dapat mempengaruhi rasa.
Apa yang dirasakan dapat mempengaruhi kehendak.
Kehendak kemudian dapat diwujudkan menjadi tindakan.
Karena itu, pembenahan manusia tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan kepada pikiran.
Cipta perlu dijernihkan, rasa perlu ditata, dan karsa perlu diarahkan.
Di sinilah muncul gagasan mengenai Resiking Cipta, Weninging Rasa, dan Penataan Karsa. Ketiganya merupakan bagian dari usaha manusia untuk membentuk kehidupan yang lebih selaras.
Jika cipta tidak tertata, manusia dapat salah memahami keadaan. Jika rasa tidak tertata, manusia mudah dikuasai oleh perasaan dan kepentingan pribadi. Jika karsa tidak tertata, pengetahuan dan perasaan yang baik belum tentu menghasilkan tindakan yang baik.
Maka, Kawruh Uttamopadesa tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang diketahui manusia?” tetapi juga mengarah kepada pertanyaan, “Bagaimana pengetahuan itu dipikirkan, dirasakan, dan diwujudkan?”
5. Berdampak pada Perilaku Kehidupan.
Ciri kelima adalah adanya harapan bahwa kawruh memberikan dampak nyata terhadap perilaku manusia.
Kawruh bukan sekadar kumpulan konsep yang indah untuk dibicarakan. Nilainya dapat terlihat dari kehidupan orang yang menjalaninya.
Apabila seseorang memahami pentingnya kejujuran, maka kejujuran seharusnya semakin tampak dalam perilakunya.
Apabila memahami pengendalian diri, maka tindakannya seharusnya semakin tertata.
Apabila memahami welas asih, maka hubungannya dengan sesama seharusnya semakin baik.
Dengan demikian, kawruh mengajarkan perubahan, sedangkan manusia sendiri yang harus melakukan perubahan tersebut melalui perilaku hidupnya.
Kawruh tidak secara otomatis mengubah seseorang. Pengetahuan hanya memberikan pemahaman mengenai apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana arah perbaikannya. Perubahan terjadi ketika manusia bersedia menjalankannya.
Karena itu, hubungan antara kawruh dan laku menjadi sangat penting dalam Uttamopadesa.
Pengetahuan tanpa laku dapat berhenti sebagai kata-kata. Sebaliknya, laku tanpa pemahaman dapat kehilangan arah. Keduanya perlu berjalan bersama.
Keselarasan dengan Tatanan Kehidupan.
Kelima ciri tersebut akhirnya bertemu pada satu tujuan penting, yaitu keselarasan kehidupan.
Manusia merupakan bagian dari kehidupan. Karena itu, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungan dengan sesama manusia, lingkungan, dan tatanan kehidupan secara keseluruhan.
Keselarasan bukan berarti semua manusia harus memiliki pemikiran dan perilaku yang sama. Keselarasan lebih berarti kemampuan manusia menempatkan diri secara tepat, memahami batas dirinya, menghormati kehidupan, serta tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai satu-satunya ukuran dalam bertindak.
Dalam kerangka ini, pembenahan cipta, rasa, dan karsa memiliki tujuan yang nyata.
Manusia belajar memperbaiki cara berpikir, menata perasaan, dan mengarahkan kehendaknya sehingga tindakannya tidak bertentangan dengan tatanan kehidupan.
Kawruh, dengan demikian memiliki hubungan langsung dengan pembentukan perilaku.
Penutup.
Ciri-ciri Kawruh Uttamopadesa dapat dirangkum dalam lima pokok utama: bersumber dari Prabhawaning Panguripan, tidak menjadikan ritual rumit sebagai pusat, tidak mengejar hal-hal gaib atau supranatural, berpusat pada pembenahan cipta, rasa, dan karsa, serta diharapkan menghasilkan perilaku kehidupan yang selaras dengan tatanan kehidupan.
Kelima ciri tersebut menunjukkan bahwa Uttamopadesa menempatkan manusia dan kehidupannya sebagai ruang utama untuk menjalankan kawruh.
Kawruh tidak dimaksudkan hanya untuk diketahui. Kawruh perlu dipahami, dirasakan, kemudian dilakoni. Dari situlah pengetahuan dapat memiliki arti dalam kehidupan.
Pada akhirnya, keberhasilan Kawruh Uttamopadesa bukan diukur dari seberapa banyak istilah yang diketahui seseorang, seberapa rumit laku yang dilakukan, atau seberapa luar biasa pengalaman yang diperoleh, melainkan dari seberapa baik manusia mampu menata cipta, rasa, dan karsanya serta mewujudkan pemahaman tersebut dalam perilaku kehidupan.
FAQ - Ciri-Ciri Kawruh Uttampadesa.
Apa yang menjadi sumber Kawruh Uttamopadesa?
Kawruh Uttamopadesa bersumber dari Prabhawaning Panguripan, yaitu pemahaman mengenai asal, daya, dan tatanan berlangsungnya kehidupan.
Apakah Kawruh Uttamopadesa mengutamakan ritual?
Tidak. Kawruh Uttamopadesa tidak menjadikan kompleksitas ritual sebagai ukuran utama. Penekanannya adalah pemahaman, laku, serta pembenahan diri dalam kehidupan.
Apakah Uttamopadesa mengajarkan hal-hal supranatural?
Tidak. Kawruh Uttamopadesa tidak menjadikan pencarian kemampuan gaib atau pengalaman supranatural sebagai tujuan. Fokusnya adalah kehidupan manusia dan perilakunya.
Apa yang menjadi pusat perhatian Kawruh Uttamopadesa?
Pusat perhatiannya adalah manusia, khususnya pembenahan cipta, rasa, dan karsa agar dapat diwujudkan dalam perilaku yang lebih selaras.
Apakah kawruh uttamopadesa dapat langsung mengubah perilaku manusia?
Tidak secara otomatis. Kawruh memberikan pemahaman mengenai perubahan yang perlu dilakukan. Perubahan terjadi melalui laku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Apa hubungan kawruh dan laku dalam Uttamopadesa?
Kawruh memberikan pemahaman, sedangkan laku merupakan penerapan pemahaman tersebut dalam kehidupan. Karena itu, kawruh dan laku tidak seharusnya dipisahkan.
Apa tujuan akhir dari pembenahan cipta, rasa, dan karsa?
Tujuannya adalah membantu manusia menata dirinya sehingga mampu menjalani kehidupan secara lebih baik dan bertindak selaras dengan tatanan kehidupan.


Komentar
Posting Komentar
Tuliskan pesan atau komentar anda secara sopan, demi perkembangan website-blog ini. Terima kasih.