Kebijaksanaan sejati bukanlah sekadar kemampuan seseorang untuk mengetahui banyak hal, memahami berbagai ilmu, atau mampu memberikan nasihat kepada orang lain. Dalam pandangan Kawruh Sejati, kebijaksanaan merupakan buah dari kesadaran yang tumbuh melalui proses memahami kehidupan, mengenali diri, membersihkan cipta, memperhalus rasa, serta meluruskan karsa. Karena itu, seseorang tidak dapat disebut bijaksana hanya karena memiliki pengetahuan yang luas. Kebijaksanaan baru memiliki makna ketika pengetahuan tersebut benar-benar mengubah cara seseorang melihat kehidupan dan tercermin dalam perilakunya.
Dalam Uttamopadesa, pengetahuan tidak ditempatkan sebagai alat untuk membangun kebanggaan diri, melainkan sebagai jalan untuk semakin mengenali kasunyatan dan memperbaiki kualitas kehidupan. Inilah hubungan yang erat antara Kawruh Sejati, Uttamopadesa, dan Kawruh Kasunyatan.
Kawruh Sejati menunjuk pada pengetahuan yang membawa manusia semakin dekat kepada kenyataan yang sejati, Kawruh Kasunyatan menuntun manusia untuk memahami keadaan sebagaimana adanya, sedangkan Uttamopadesa menjadi ajaran yang menuntun manusia agar pemahaman tersebut diwujudkan melalui laku kehidupan.
Kebijaksanaan Bukan Sekadar Kecerdasan.
Kecerdasan membuat seseorang mampu berpikir, menganalisis, membandingkan, dan menemukan berbagai kemungkinan. Pengetahuan membuat seseorang mengetahui lebih banyak tentang sesuatu.
Namun, kecerdasan dan pengetahuan belum tentu menjadikan seseorang bijaksana. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tetapi tetap dikuasai kesombongan, kepentingan diri, prasangka, kemarahan, keserakahan, atau keinginan untuk menguasai orang lain.
Di sinilah Kawruh Sejati memberikan penekanan yang berbeda. Ukuran pengetahuan tidak hanya dilihat dari seberapa banyak sesuatu dapat dijelaskan, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan tersebut mampu membentuk kesadaran dan memperbaiki perilaku. Pengetahuan yang tidak menghasilkan perubahan pada diri sendiri masih berada pada tingkat pemahaman. Sebaliknya, ketika pemahaman mulai mengubah cara berpikir, merasakan, memilih, berbicara, dan bertindak, pengetahuan mulai berbuah menjadi kebijaksanaan.
Dengan demikian, kebijaksanaan bukanlah gelar yang dapat diberikan kepada seseorang, melainkan kualitas kesadaran yang terlihat melalui laku hidupnya.
Kesadaran sebagai Sumber Kebijaksanaan.
Kesadaran membuat manusia mampu melihat apa yang terjadi di dalam dirinya sebelum sesuatu diwujudkan keluar. Ketika muncul suatu pikiran, manusia yang sadar tidak langsung menjadikannya ucapan atau tindakan. Ia mampu melihat terlebih dahulu apakah pikiran tersebut lahir dari kejernihan atau justru dari kepentingan diri, prasangka, ketakutan, kemarahan, dan dorongan yang tidak terkendali.
Dalam kerangka Uttamopadesa, proses ini berkaitan erat dengan pemurnian cipta, rasa, dan karsa. Cipta perlu dijernihkan agar mampu melihat dengan lebih tepat, rasa perlu diperhalus agar tidak mudah dikuasai gejolak, sedangkan karsa perlu diluruskan agar tindakan tidak hanya mengikuti kepentingan pribadi.
Ketika ketiganya semakin tertata, keputusan yang lahir dari diri seseorang juga menjadi semakin matang. Ia tidak mudah bertindak hanya karena dorongan sesaat. Ia mulai mampu mempertimbangkan akibat dari tindakannya, memahami keadaan orang lain, serta melihat persoalan secara lebih luas. Dari sinilah kebijaksanaan tumbuh.
Kawruh Kasunyatan dan Kemampuan Melihat Apa Adanya.
Kawruh Kasunyatan mengajarkan pentingnya melihat kenyataan tanpa menundukkannya kepada keinginan pribadi. Banyak kesalahan manusia bukan semata-mata karena tidak mengetahui, melainkan karena melihat sesuatu sesuai dengan apa yang ingin dipercayainya.
Seseorang dapat mengetahui kenyataan, tetapi ketika kenyataan tersebut bertentangan dengan kepentingannya, ia bisa menolak, memutarbalikkan, atau mencari pembenaran. Kesadaran yang semakin matang justru membuat seseorang berani melihat sesuatu sebagaimana adanya, termasuk ketika kenyataan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya.
Kemampuan menerima kenyataan bukan berarti pasrah tanpa tindakan. Sebaliknya, dengan melihat keadaan secara jernih, manusia dapat menentukan tindakan yang lebih tepat. Ia tidak lagi bertindak berdasarkan prasangka atau dorongan sesaat, tetapi berdasarkan pemahaman terhadap keadaan yang sebenarnya.
Karena itu, kebijaksanaan sejati selalu memiliki hubungan dengan kemampuan melihat kasunyatan.
Pengetahuan yang Tidak Membuat Sombong.
Salah satu tanda penting dari berkembangnya kebijaksanaan adalah berkurangnya kebutuhan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Semakin banyak seseorang memahami kehidupan, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum dipahaminya.
Orang yang menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk meninggikan diri sebenarnya masih terikat oleh pengetahuannya sendiri. Ia mungkin memiliki banyak informasi, mampu berbicara dengan meyakinkan, bahkan mampu menjelaskan berbagai persoalan, tetapi pengetahuannya belum sepenuhnya menjadi kebijaksanaan.
Sebaliknya, orang yang benar-benar memahami Kawruh Sejati tidak menjadikan pengetahuannya sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Ia menggunakan pengetahuan untuk melihat kekurangan dirinya sendiri. Ia lebih sibuk memperbaiki cipta, rasa, dan karsanya daripada mencari kesalahan orang lain.
Kerendahan hati dalam hal ini bukan berarti menganggap diri tidak memiliki kemampuan, melainkan tidak menjadikan kemampuan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi.
Kebijaksanaan Terlihat dalam Perbuatan.
Kebijaksanaan sejati tidak berhenti pada pikiran. Ia harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, menghadapi perbedaan, mengambil keputusan, menggunakan kekuasaan, menghadapi keuntungan maupun kerugian, semuanya menjadi cermin dari tingkat kesadarannya.
Seseorang dapat berbicara panjang tentang kebenaran, tetapi apabila perilakunya masih penuh kebencian, keserakahan, kesombongan, dan kepentingan diri, maka pengetahuan tersebut belum menjadi kebijaksanaan.
Dalam Uttamopadesa, laku memiliki kedudukan penting karena pemahaman harus diwujudkan dalam kehidupan.
Kebijaksanaan bukan sesuatu yang hanya dibicarakan, tetapi sesuatu yang dijalani. Ia hadir ketika manusia mampu mengendalikan dirinya tanpa kehilangan kejernihan, mampu berbuat baik tanpa membutuhkan pengakuan, mampu memiliki pengetahuan tanpa kesombongan, serta mampu menghadapi perbedaan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Semakin Sadar, Semakin Rendah Hati.
Kesadaran yang semakin tinggi tidak seharusnya membuat seseorang merasa semakin istimewa. Justru sebaliknya, kesadaran yang semakin matang membuat manusia semakin memahami keterbatasan dirinya.
Ia menyadari bahwa kehidupan tidak berpusat pada dirinya sendiri. Ia mulai melihat hubungan antara dirinya dengan kehidupan yang lebih luas. Dari pemahaman tersebut lahir kepedulian, kasih, tanggung jawab, dan kehati-hatian dalam bertindak.
Karena itu, ukuran perkembangan kesadaran bukanlah seberapa tinggi seseorang merasa telah mencapai suatu keadaan, melainkan seberapa nyata perubahan dalam perilakunya. Jika kesadaran bertambah tetapi kesombongan juga bertambah, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali. Jika pengetahuan bertambah tetapi kebencian semakin kuat, maka pengetahuan tersebut belum menghasilkan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan sebagai Buah dari Laku.
Pada akhirnya, Kawruh Sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, Kawruh Kasunyatan bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan, dan Uttamopadesa bukan sekadar kumpulan konsep. Ketiganya memperoleh maknanya ketika manusia menjadikannya sebagai dasar untuk memperbaiki kehidupan.
Kebijaksanaan lahir secara bertahap melalui kesadaran yang terus diasah. Cipta yang semakin jernih menghasilkan pandangan yang lebih tepat. Rasa yang semakin halus menghasilkan kepedulian yang lebih luas. Karsa yang semakin lurus menghasilkan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Ketiganya kemudian membentuk manusia yang tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi berusaha hidup selaras dengan apa yang telah dipahaminya.
Maka, kebijaksanaan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi seseorang dapat berbicara mengenai kehidupan, melainkan seberapa baik ia menjalani kehidupan setelah memahami apa yang telah diketahuinya.
Orang yang bijaksana tidak perlu sibuk menyatakan bahwa dirinya bijaksana. Kebijaksanaannya akan terlihat dari cara ia berpikir, merasakan, berbicara, dan bertindak. Semakin tinggi kesadarannya, semakin dalam kerendahan hatinya, semakin luas kepeduliannya, dan semakin hati-hati ia menggunakan setiap pengetahuan yang dimilikinya.
Inilah salah satu inti Kawruh Sejati dalam Uttamopadesa: pengetahuan sejati seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berbuah menjadi kesadaran, dan kesadaran yang matang pada akhirnya berbuah menjadi kebijaksanaan dalam laku kehidupan.
FAQ
Apa yang dimaksud kebijaksanaan sejati menurut Kawruh Sejati?
Kebijaksanaan sejati adalah kemampuan memahami kenyataan dengan jernih dan mewujudkan pemahaman tersebut dalam pikiran, ucapan, serta tindakan yang selaras dengan kehidupan.
Apa hubungan Kawruh Sejati dengan kebijaksanaan?
Kawruh Sejati menjadi dasar pemahaman yang mengarahkan manusia untuk mengenali kenyataan dan dirinya sendiri. Ketika pemahaman tersebut diwujudkan dalam laku, muncullah kebijaksanaan.
Apa hubungan Uttamopadesa dengan Kawruh Kasunyatan?
Uttamopadesa mengajarkan manusia untuk memahami dan menjalani kehidupan berdasarkan Kawruh Kasunyatan, sehingga pengetahuan tidak berhenti sebagai konsep tetapi menjadi dasar perubahan perilaku.
Apakah orang yang memiliki banyak pengetahuan pasti bijaksana?
Tidak. Pengetahuan dan kecerdasan belum tentu menghasilkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan terlihat ketika pengetahuan mampu membentuk kesadaran dan memperbaiki perilaku.
Mengapa orang yang semakin sadar justru semakin rendah hati?
Karena kesadaran yang matang membuat seseorang semakin memahami keterbatasan dirinya dan semakin mampu melihat kehidupan secara luas, sehingga tidak membutuhkan kesombongan untuk menunjukkan kelebihannya.
Bagaimana mengetahui bahwa kesadaran seseorang berkembang?
Salah satu tandanya adalah perubahan nyata dalam perilaku, seperti semakin jernih dalam berpikir, semakin halus dalam merasakan, semakin mampu mengendalikan diri, dan semakin bertanggung jawab dalam bertindak.
NAWA BRATA WISESA.
SEMBILAN PILAR PENGABDIAN.
HAKEKAT KEMANUSIAAN.
HAKEKAT KAWRUH SEJATI.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan pesan atau komentar anda secara sopan, demi perkembangan website-blog ini. Terima kasih.