MANUSIA ADALAH PENGAYOM

manusia adalah pengayom
✦ Buka Kutipan
“Janma Minangka Pangayom lan Panyambunging Bhuwana.
Janma mapan wonten ing antawisipun bhuwana alit lan bhuwana ageng. Lumantar dhirinipun, kaselarasan antawisipun alam lan batin saged kawujud.
Ngreksa dhiri punika wiwitaning ngreksa jagad.”
Manusia bukan sekadar makhluk yang hidup di tengah alam. Dalam pandangan kehidupan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari keseluruhan jagad, manusia memiliki kedudukan penting sebagai pengayom dan panyambunging bhuwana—penghubung antara bhuwana alit, yaitu dirinya sendiri, dan bhuwana ageng, yaitu alam kehidupan yang lebih luas.

Manusia hidup di antara dua kenyataan tersebut. Di dalam dirinya terdapat cipta, rasa, dan karsa. Di luar dirinya terbentang alam dengan segala kehidupan, keteraturan, dan kekayaannya. Karena itu, kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari keadaan lingkungan dan kehidupan sesamanya. Apa yang dilakukan manusia terhadap dirinya akan mempengaruhi lingkungannya, sementara keadaan lingkungan juga akan mempengaruhi perkembangan dirinya.

Dalam pengertian ini, menjadi manusia bukan hanya tentang memiliki kemampuan berpikir, berbicara, atau menciptakan peradaban. Menjadi manusia juga berarti mampu mengayomi kehidupan.

Manusia sebagai Bagian dari Bhuwana.
Manusia sering memandang dirinya sebagai pusat kehidupan. Dengan kecerdasan dan kemampuan mengolah alam, manusia dapat membangun rumah, mengembangkan teknologi, mengubah lingkungan, dan menciptakan berbagai bentuk kebudayaan. Namun kemampuan tersebut sekaligus membawa tanggung jawab.

Alam bukan sekadar sumber yang dapat diambil tanpa batas. Alam adalah bagian dari kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Air, tanah, tumbuhan, hewan, udara, dan seluruh keseimbangan alam memiliki hubungan dengan keberlangsungan kehidupan manusia.
Karena itu, manusia perlu memahami bahwa dirinya bukan penguasa mutlak atas alam, melainkan bagian dari keseluruhan kehidupan.
Di sinilah makna manusia sebagai pengayom menjadi penting. Pengayom bukan berarti seseorang yang memiliki kekuasaan untuk mengatur segala sesuatu sesuka hati. Pengayom adalah pribadi yang mampu menjaga, melindungi, merawat, dan menciptakan keadaan yang memungkinkan kehidupan berkembang secara selaras.

Ngreksa Dhiri sebagai Awal Ngreksa Jagad.
Ada sebuah prinsip sederhana tetapi mendalam: ngreksa dhiri punika wiwitaning ngreksa jagad—menjaga diri merupakan awal dari menjaga dunia.

Manusia tidak mungkin menciptakan lingkungan kehidupan yang baik apabila dirinya sendiri masih dikuasai oleh keserakahan, kemarahan, kebencian, kesombongan, dan keinginan yang tidak terkendali.

Kerusakan di luar sering kali berawal dari ketidakteraturan di dalam diri.

Ketika manusia tidak mampu mengendalikan keinginannya, alam dapat diperlakukan hanya sebagai objek pemuasan kepentingan. Ketika manusia dikuasai keserakahan, sumber daya akan dieksploitasi tanpa mempertimbangkan keseimbangan. Ketika manusia tidak mampu mengendalikan kemarahannya, hubungan sosial menjadi penuh pertentangan.

Oleh sebab itu, pengayoman terhadap jagad harus dimulai dari pengayoman terhadap diri sendiri.

Menjaga diri berarti menata cipta, rasa, dan karsa. Cipta diarahkan agar jernih dalam berpikir. Rasa dibersihkan agar mampu merasakan keadaan dengan lebih bening. Karsa ditata agar kehendak diwujudkan melalui tindakan yang baik dan bertanggung jawab.

Manusia yang mampu mengayomi dirinya akan lebih mudah mengayomi kehidupan di sekitarnya.

Cipta yang Jernih Melahirkan Pandangan yang Luas.
Cipta merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena melalui cipta manusia memahami, menimbang, dan menentukan sikap.

Cipta yang dipenuhi pamrih pribadi cenderung melihat segala sesuatu dari kepentingan dirinya sendiri. Sebaliknya, cipta yang jernih mampu melihat hubungan antara dirinya dengan kehidupan yang lebih luas.

Dari kejernihan cipta lahirlah kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki akibat.
Ketika menebang pohon, manusia perlu menyadari dampaknya terhadap tanah dan air. Ketika membuang limbah, manusia perlu memahami akibatnya terhadap lingkungan. Ketika berbicara kepada orang lain, manusia perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap perasaan dan hubungan sosial.

Kesadaran semacam ini menjadikan manusia tidak sekadar bertindak berdasarkan keinginan, tetapi berdasarkan pertimbangan yang matang.

Rasa yang Wening Menumbuhkan Kepedulian.
Pengayoman juga membutuhkan rasa yang wening.

Rasa yang wening membuat manusia tidak mudah bersikap masa bodoh terhadap penderitaan makhluk lain. Ia mampu melihat bahwa kehidupan tidak hanya berisi kepentingan dirinya.

Kepedulian kepada sesama, penghormatan terhadap kehidupan, dan perhatian terhadap lingkungan merupakan bentuk nyata dari rasa yang telah berkembang.

Pengayom bukanlah orang yang hanya mengatakan bahwa dirinya mencintai kehidupan. Pengayom menunjukkan kecintaannya melalui perilaku.

Ia menjaga ucapan agar tidak melukai. Ia menjaga tindakan agar tidak merugikan. Ia menggunakan apa yang dimiliki dengan sewajarnya. Ia tidak mengambil lebih daripada yang diperlukan apabila tindakan tersebut dapat merusak kehidupan.

Karsa yang Tertata Menghasilkan Tindakan Nyata.
Cipta dan rasa tidak akan berarti apabila tidak diwujudkan melalui karsa.

Karsa adalah kehendak yang mendorong manusia melakukan sesuatu. Karena itu, karsa perlu diarahkan agar tidak hanya mengejar kepentingan pribadi.

Manusia yang memiliki karsa tertata akan mampu membedakan antara apa yang diinginkan dan apa yang seharusnya dilakukan.

Inilah salah satu ciri manusia sebagai pengayom. Ia tidak selalu melakukan apa yang paling mudah atau paling menguntungkan bagi dirinya. Ia mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan yang lebih luas.

Pengayoman dengan demikian bukan teori. Ia harus tampak dalam tindakan sehari-hari: menjaga kebersihan, merawat lingkungan, menghormati sesama, menggunakan sumber daya secara bijaksana, membantu yang membutuhkan, serta menghindari tindakan yang menimbulkan kerusakan.

Panyambunging Bhuwana.
Manusia juga disebut sebagai panyambunging bhuwana, karena manusia memiliki kemampuan untuk menyelaraskan kehidupan batin dengan kehidupan lahir.

Bhuwana alit adalah diri manusia dengan seluruh dinamika batinnya. Bhuwana ageng adalah alam kehidupan yang lebih luas. Keduanya tidak berdiri sendiri.

Apa yang terjadi di dalam diri dapat memengaruhi cara manusia memperlakukan dunia. Sebaliknya, keadaan dunia dapat memengaruhi keadaan batinnya.

Manusia yang batinnya kacau cenderung menciptakan kekacauan di sekitarnya.

Manusia yang batinnya tertata lebih mungkin menghadirkan ketenteraman.

Karena itu, manusia memiliki tugas untuk menjadi jembatan antara kesadaran batin dan kehidupan nyata.

Ia membawa nilai-nilai kebajikan dari dalam dirinya menuju kehidupan sosial. Ia mengubah kesadaran menjadi tindakan. Ia mengubah pemahaman menjadi laku.

Pengayom Tidak Harus Memiliki Kekuasaan.
Menjadi pengayom tidak harus menunggu seseorang menjadi pemimpin besar.

Setiap manusia memiliki lingkungan yang dapat diayomi. Dalam keluarga, seseorang dapat menjadi pengayom bagi keluarganya. Dalam masyarakat, ia dapat menjaga kerukunan. Dalam lingkungan alam, ia dapat merawat apa yang ada di sekitarnya.

Pengayoman dimulai dari lingkaran kehidupan yang paling dekat.

Seorang manusia yang mampu menjaga dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan hubungan dengan sesamanya telah menjalankan fungsi pengayoman sesuai dengan kemampuannya.

Karena itu, ukuran pengayom bukanlah besar kecilnya kekuasaan, melainkan besar kecilnya kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan.

Menjadi Manusia yang Menghidupkan Kehidupan.
Pada akhirnya, manusia sebagai pengayom bukanlah manusia yang ingin menguasai kehidupan, melainkan manusia yang mampu menjaga kehidupan.

Ia menyadari bahwa dirinya berasal dari rangkaian kehidupan yang panjang. Ia hidup karena alam menyediakan ruang kehidupan. Ia berkembang karena hadirnya sesama manusia. Maka sudah sewajarnya keberadaannya memberikan manfaat bagi kehidupan.

Manusia yang sejati bukan hanya bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari kehidupan?” tetapi juga bertanya, Apa yang dapat saya jaga dan berikan kepada kehidupan?

Pertanyaan kedua membawa manusia menuju kesadaran yang lebih luas.

Dari sanalah lahir sikap hidup yang tidak berlebihan, tidak merusak, tidak semena-mena, dan tidak hanya mengejar kepentingan diri.

Manusia adalah pengayom ketika ia mampu mengayomi dirinya, sesamanya, dan alam kehidupannya.

Ngreksa dhiri menjadi awal. Weninging cipta menjadi dasar. Weninging rasa menjadi penguat. Nata karsa menjadi jalan. Dan tindakan nyata menjadi bukti.

Dengan demikian, manusia benar-benar dapat menjadi panyambunging bhuwana—penghubung yang menghadirkan keselarasan antara bhuwana alit dan bhuwana ageng.

FAQ - Manusia adalah Pengayom.
1. Apa arti manusia sebagai pengayom?
Manusia sebagai pengayom berarti manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melindungi kehidupan, baik dirinya sendiri, sesama manusia, maupun alam.

2. Mengapa menjaga diri disebut sebagai awal menjaga jagad?
Karena perilaku manusia berawal dari keadaan batinnya. Cipta, rasa, dan karsa yang tertata akan melahirkan tindakan yang lebih baik terhadap sesama dan lingkungan.

3. Apa hubungan bhuwana alit dan bhuwana ageng?
Bhuwana alit menggambarkan diri manusia, sedangkan bhuwana ageng menggambarkan alam kehidupan yang lebih luas. Keduanya saling berhubungan dan dapat dipahami melalui kesadaran manusia.

4. Bagaimana cara menjadi pengayom dalam kehidupan sehari-hari?
Dimulai dari hal sederhana: menjaga diri, mengendalikan perilaku, menghormati sesama, merawat lingkungan, menggunakan sumber daya secara bijaksana, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan kehidupan.

5. Apakah pengayom harus seorang pemimpin?
Tidak. Setiap manusia dapat menjadi pengayom dalam lingkungan masing-masing. Pengayoman tidak ditentukan oleh kedudukan, tetapi oleh kepedulian dan tindakan nyata.

Artikel penambah wawasan :
NAWA BRATA WISESA.
simbol stel

Komentar