Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan yang cukup dalam.
Apakah kehidupan seseorang benar-benar ditentukan oleh apa yang ada di dalam pikirannya? Apakah seseorang yang selalu berpikir positif pasti mendapatkan kehidupan yang baik? Sebaliknya, apakah pikiran negatif otomatis membuat seseorang mengalami kehidupan yang buruk?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Pikiran bukanlah takdir dalam pengertian bahwa setiap bayangan dalam kepala akan langsung menjadi kenyataan. Namun, pikiran mempunyai pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang melihat kehidupan, mengambil keputusan, membentuk kebiasaan, dan akhirnya menjalani kehidupannya.
Di sinilah pembahasan tentang kawruh sejati dan kawruh kasunyatan menjadi menarik.
Pikiran Menentukan Jalan, Bukan Menentukan Segalanya.
Pikiran dapat diibaratkan sebagai penentu arah perjalanan.
Seseorang yang berpikir, “Saya tidak mampu,” kemungkinan akan ragu untuk mencoba. Karena ragu, ia mungkin tidak mengambil kesempatan. Karena tidak mengambil kesempatan, hasil kehidupannya pun berbeda.
Sebaliknya, seseorang yang berpikir, “Saya harus belajar dan berusaha,” akan lebih mungkin mengambil tindakan. Ia mencoba, mengalami kegagalan, memperbaiki diri, kemudian mencoba kembali.
Dari sini terlihat bahwa pikiran memang dapat mempengaruhi perjalanan hidup.
Tetapi ada perbedaan penting antara pikiran sebagai penentu jalan dan pikiran sebagai penentu takdir.
Pikiran bukan kekuatan ajaib yang memerintah seluruh kenyataan. Banyak hal dalam kehidupan berada di luar kendali manusia. Kita tidak dapat menentukan semua keadaan, perilaku orang lain, perubahan lingkungan, maupun berbagai peristiwa yang datang tanpa diduga.
Yang dapat dilatih adalah bagaimana kita menanggapi keadaan tersebut.
Karena itu, kalimat yang lebih tepat mungkin bukan:
“Pikiran adalah takdir.”
Melainkan:
“Pikiran menentukan banyak hal dalam cara kita menjalani takdir kehidupan.”
Dari Pikiran Menjadi Perbuatan.
Sebuah pikiran tidak berhenti sebagai pikiran.
Pikiran dapat melahirkan rasa. Rasa dapat memengaruhi kehendak. Kehendak kemudian mendorong seseorang untuk bertindak.
Dalam kehidupan sehari-hari, proses tersebut sangat mudah diamati.
Seseorang merasa dirinya selalu menjadi korban. Pikiran tersebut dapat menumbuhkan rasa kecewa dan marah. Rasa itu kemudian mempengaruhi kehendaknya. Akhirnya ia mungkin mudah menyalahkan orang lain.
Sebaliknya, seseorang yang mulai berpikir bahwa setiap persoalan dapat menjadi kesempatan untuk belajar akan memiliki sikap berbeda. Ia mungkin lebih tenang menghadapi masalah dan lebih bersedia mencari jalan keluar.
Dengan demikian, yang membentuk kehidupan bukan sekadar apa yang dipikirkan, tetapi apa yang terjadi setelah pikiran tersebut.
Pikiran → rasa → kehendak → tindakan → kebiasaan → karakter.
Inilah alasan mengapa perubahan kehidupan tidak cukup hanya dengan mengganti kalimat di dalam pikiran.
Kawruh Sejati Tidak Berhenti pada Pikiran Positif.
Dalam pembahasan kawruh sejati, kehidupan batin tidak cukup dipahami sebagai usaha untuk selalu berpikir positif.
Berpikir positif memang dapat membantu seseorang melihat persoalan dengan lebih jernih.
Namun, berpikir positif tanpa kesadaran dapat berubah menjadi penyangkalan terhadap kenyataan.
Misalnya seseorang sedang menghadapi kesalahan besar, tetapi hanya mengatakan, “Saya harus positif.”
Kalimat tersebut belum tentu menyelesaikan masalah.
Yang lebih penting adalah keberanian melihat kenyataan, mengakui kesalahan, memahami penyebabnya, kemudian memperbaiki tindakan.
Karena itu, kawruh sejati bukan sekadar mengajarkan seseorang untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Kawruh sejati mengarahkan manusia untuk mengenali keadaan batinnya sendiri.
Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan?
Apa yang sedang dirasakan?
Apa yang sebenarnya diinginkan?
Dan yang paling penting: ke mana semua itu membawa perilaku kita?
Kawruh Kasunyatan: Berani Melihat Apa Adanya.
Di sinilah kawruh kasunyatan memiliki kedudukan penting.
Kasunyatan berarti kenyataan yang perlu dilihat dengan jernih, bukan sekadar kenyataan yang ingin kita lihat.
Kadang-kadang manusia merasa dirinya sudah benar karena pikirannya sendiri. Padahal, pikirannya dapat dipengaruhi oleh kepentingan, emosi, pengalaman masa lalu, rasa takut, maupun keinginan pribadi.
Seseorang dapat merasa dirinya sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya sedang membela ego.
Karena itu, perjalanan menuju kesadaran bukan hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi juga belajar mengamati diri sendiri.
Pikiran perlu disadari.
Rasa perlu dikenali.
Karsa atau kehendak perlu dikendalikan.
Ketika ketiganya semakin jernih, seseorang mulai mampu membedakan antara apa yang benar-benar diperlukan dan apa yang hanya diinginkan oleh ego.
Apakah Pikiran Bisa Mengubah Masa Depan?
Bisa, tetapi melalui proses.
Pikiran dapat mempengaruhi keputusan. Keputusan melahirkan tindakan. Tindakan yang dilakukan berulang-ulang membentuk kebiasaan. Kebiasaan kemudian membentuk karakter.
Karakter seseorang akhirnya sangat berpengaruh terhadap arah kehidupannya.
Seorang yang terus memelihara pikiran malas akan lebih mudah membentuk kebiasaan menunda. Seorang yang terus melatih kedisiplinan akan membentuk kebiasaan yang berbeda.
Jadi, pikiran memiliki hubungan dengan masa depan, tetapi bukan karena pikiran mempunyai kekuatan magis.
Hubungannya terjadi melalui kesadaran dan tindakan.
Inilah perbedaan penting antara pemahaman yang mendalam dengan slogan motivasi.
Jangan Menyalahkan Pikiran atas Semua Keadaan.
Ada bahaya ketika kalimat “pikiran adalah takdir” dipahami secara mutlak.
Jika seseorang mengalami kegagalan, lalu dikatakan bahwa kegagalan itu terjadi karena pikirannya negatif, persoalannya menjadi terlalu sederhana.
Tidak semua penderitaan disebabkan oleh pikiran seseorang.
Ada keadaan yang memang terjadi di luar kehendak manusia.
Karena itu, kawruh kasunyatan mengajak manusia melihat kehidupan secara utuh.
Tidak melarikan diri dari kenyataan, tetapi juga tidak menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu yang terjadi.
Yang perlu diperhatikan adalah bagian yang memang berada dalam ruang kesadaran dan tanggung jawab kita.
Kita mungkin tidak dapat memilih semua peristiwa yang datang.
Tetapi kita masih dapat belajar memilih bagaimana menyikapinya.
Takdir dan Kesadaran.
Jika takdir dipahami sebagai seluruh rangkaian kehidupan yang terjadi pada manusia, maka pikiran hanyalah salah satu bagian dari perjalanan tersebut.
Namun, jika yang dimaksud dengan “takdir” adalah arah kehidupan yang terbentuk dari pilihan-pilihan kita, maka pikiran memiliki peran yang sangat besar.
Karena itu, manusia perlu berhati-hati terhadap apa yang dipeliharanya dalam batin.
Jangan terus-menerus memelihara kebencian.
Jangan menjadikan ketakutan sebagai penguasa kehidupan.
Jangan membiarkan keinginan mengendalikan seluruh tindakan.
Dan jangan pula menganggap semua pikiran yang muncul sebagai kebenaran.
Pikiran harus diamati, disadari, dan diuji melalui kenyataan.
Kesimpulan.
Jadi, benarkah pikiran adalah takdir?
Jawabannya: tidak sepenuhnya.
Pikiran bukanlah mesin ajaib yang secara otomatis menciptakan seluruh kenyataan. Tetapi pikiran dapat menentukan arah perhatian, mempengaruhi rasa, membentuk kehendak, mendorong tindakan, dan akhirnya membentuk kebiasaan serta karakter.
Karena itu, lebih tepat mengatakan:
“Pikiran bukan takdir, tetapi pikiran dapat menentukan jalan menuju takdir kehidupan.”
Dalam perspektif kawruh sejati, manusia diajak mengenali dan membersihkan kehidupan batinnya. Sedangkan melalui kawruh kasunyatan, manusia belajar melihat kenyataan sebagaimana adanya, bukan sekadar sebagaimana yang diinginkannya.
Pada akhirnya, perubahan kehidupan bukan dimulai dari keinginan untuk memiliki nasib yang berbeda.
Perubahan dimulai ketika manusia berani melihat dirinya sendiri.
Apa yang kupikirkan?
Apa yang kurasakan?
Apa yang kukehendaki?
Dan ke mana semua itu membawaku?
Mungkin di situlah letak makna yang lebih dalam dari kalimat “pikiran menentukan jalan.”
Bukan karena pikiran dapat mengendalikan seluruh dunia, melainkan karena manusia yang sadar akan pikirannya mulai mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dan ketika manusia mampu menata cipta, rasa, dan karsa, jalan kehidupannya pun perlahan berubah.
Namun, berpikir positif tanpa kesadaran dapat berubah menjadi penyangkalan terhadap kenyataan.
FAQ: Pikiran adalah Takdir, Benarkah?
1. Apakah pikiran benar-benar menentukan takdir?
Tidak sepenuhnya. Pikiran memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan dan bertindak, tetapi kehidupan juga dipengaruhi banyak faktor di luar kendali manusia.
2. Apa hubungan pikiran dengan kawruh sejati?
Dalam kawruh sejati, pikiran merupakan bagian penting dari kehidupan batin yang perlu disadari dan ditata agar seseorang mampu menjalani kehidupan dengan lebih jernih.
3. Apa hubungan kawruh kasunyatan dengan pikiran?
Kawruh kasunyatan mengajak seseorang melihat kenyataan secara jernih, termasuk menyadari bahwa tidak semua pikiran yang muncul di dalam diri merupakan kebenaran.
4. Apakah berpikir positif dapat mengubah kehidupan?
Berpikir positif dapat membantu membentuk sikap yang lebih konstruktif, tetapi perubahan kehidupan tetap membutuhkan tindakan nyata, kebiasaan baik, dan kemampuan menghadapi kenyataan.
5. Mengapa pikiran perlu dikendalikan?
Karena pikiran dapat memengaruhi rasa, kehendak, keputusan, dan tindakan. Pikiran yang tidak disadari dapat membawa seseorang pada perilaku yang merugikan dirinya maupun orang lain.
6. Apakah semua kejadian buruk disebabkan oleh pikiran negatif?
Tidak. Tidak semua peristiwa berada dalam kendali manusia. Menyalahkan pikiran sebagai penyebab seluruh kejadian buruk justru membuat pemahaman tentang kehidupan menjadi terlalu sederhana.
7. Apa inti ajaran dari pembahasan ini?
Intinya adalah menyadari pikiran, mengenali rasa, menata kehendak, dan mewujudkannya dalam tindakan yang benar. Kesadaran bukan hanya tentang apa yang dipikirkan, tetapi bagaimana pikiran tersebut membentuk kehidupan.

Komentar
Posting Komentar
Tuliskan pesan atau komentar anda secara sopan, demi perkembangan website-blog ini. Terima kasih.