TRIDAYA SAMPURNA

tridaya sampurna
Pendahuluan.
Nawa Tridayaning Janma menggambarkan sembilan tataran perkembangan manusia melalui pengolahan dan penyelarasan Cipta, Rasa, dan Karsa. Perjalanan tersebut tidak hanya menunjukkan perkembangan kemampuan berpikir, merasakan, dan bertindak, tetapi juga menggambarkan bagaimana ketiga daya tersebut secara bertahap dibentuk agar semakin jernih, selaras, dan mengarah kepada kehidupan yang utama.

Setelah melewati Tridaya Waspada, Tridaya Wening, Tridaya Tentrem, Tridaya Kawawas, Tridaya Pangrasa, dan Tridaya Pepadhang, manusia memasuki Tridaya Sampurna, yaitu tataran kedelapan Nawa Tridayaning Janma.

Tridaya Sampurna merupakan tahap ketika Cipta, Rasa, dan Karsa telah berkembang secara lebih utuh dan bekerja dalam keselarasan. Pengetahuan tidak lagi hanya berada pada pikiran, rasa tidak lagi sekadar menjadi pengalaman batin, dan kehendak tidak lagi mudah digerakkan oleh kepentingan sesaat.

Ketiganya mulai menjadi satu rangkaian yang utuh dalam menjalani kehidupan.

Pengertian Tridaya Sampurna.
Tridaya Sampurna adalah tataran kedelapan Nawa Tridayaning Janma ketika Cipta, Rasa, dan Karsa berkembang secara utuh, selaras, jernih, dan semakin bebas dari pengaruh hawa nafsu, pamrih pribadi, serta berbagai dorongan yang mengaburkan kejernihan diri.

Kata sampurna dalam konteks ini tidak harus dipahami sebagai keadaan tanpa kekurangan sama sekali. Ia lebih tepat dipahami sebagai keadaan ketika ketiga daya manusia telah berkembang dan bekerja secara selaras sesuai fungsinya.

Cipta memberikan kejernihan dalam memahami. Rasa memberikan kehalusan dalam menghayati. Karsa memberikan keteguhan dalam menjalankan.

Ketiganya tidak saling bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Cipta sebagai Pepadhang Pangertosan.
Dalam Tridaya Sampurna, Cipta telah berkembang melalui berbagai tahap sebelumnya.

Cipta yang dahulu mudah dipengaruhi dorongan sesaat kini semakin mampu melihat persoalan dengan jernih. Ia tidak mudah dikuasai oleh pamrih pribadi ataupun keinginan untuk selalu membenarkan diri sendiri.

Pengetahuan yang dimiliki juga tidak digunakan untuk menunjukkan keunggulan.
Sebaliknya, semakin luas pemahaman seseorang, semakin ia menyadari luasnya kehidupan dan keterbatasan dirinya.

Cipta kemudian menjadi pepadhang pangertosan, yaitu penerang bagi pemahaman. Pikiran digunakan untuk melihat kenyataan, mempertimbangkan akibat, dan menentukan langkah yang sesuai dengan kebaikan.

Rasa sebagai Sumber Kawelasan.
Rasa dalam Tridaya Sampurna telah mengalami proses panjang menuju kejernihan.

Rasa tidak lagi mudah dikuasai oleh kesenangan dan ketidaksukaan pribadi. Ia semakin peka terhadap keadaan sesama dan kehidupan di sekitarnya.

Dari Rasa yang semakin halus tumbuh kawelasan, sih, andhap asor, dan ketulusan.
Manusia mulai mampu melihat bahwa setiap orang memiliki keterbatasan dan perjalanan masing-masing. Karena itu, ia tidak mudah menghakimi.

Kawelasan bukan berarti membenarkan segala sesuatu. Kawelasan merupakan kemampuan memahami keadaan dengan Rasa yang jernih dan kemudian menentukan sikap yang tepat.

Karsa sebagai Penggerak Kebaikan.
Karsa merupakan daya yang mengubah pemahaman dan penghayatan menjadi tindakan.

Dalam Tridaya Sampurna, Karsa semakin teguh dalam menjalankan apa yang telah dipahami dan dirasakan sebagai kebaikan.
Manusia tidak lagi membutuhkan banyak dorongan dari luar untuk melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan mulai menjadi bagian dari arah hidupnya.

Ia dapat melakukan sesuatu yang baik meskipun tidak dilihat orang lain. Ia tidak harus memperoleh pujian untuk tetap berbuat benar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Karsa telah semakin bebas dari pamrih.

Kawruh Menjadi Lampah Gesang.
Salah satu ciri utama Tridaya Sampurna adalah ketika kawruh telah menjadi lampah gesang.

Pengetahuan tidak lagi hanya dibicarakan, dijelaskan, atau dipelajari. Pengetahuan telah masuk ke dalam cara seseorang menjalani kehidupan.

Orang yang memahami pentingnya kejujuran akan berusaha hidup jujur. Orang yang memahami pentingnya menghormati sesama akan menjadikan penghormatan sebagai bagian dari perilakunya.

Kawruh yang benar seharusnya menghasilkan perubahan dalam kehidupan.

Karena itu, ukuran perkembangan bukan hanya seberapa banyak seseorang mengetahui, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut membentuk Cipta, Rasa, dan Karsa dalam kesehariannya.

Semakin Luntur Pamrih Pribadi.
Dalam Tridaya Sampurna, pamrih pribadi semakin kehilangan pengaruhnya.
Manusia tetap memiliki kebutuhan dan kepentingan pribadi. Namun, kepentingan tersebut tidak lagi menjadi pusat dari seluruh pertimbangannya.

Ia mulai lebih mengutamakan keselarasan daripada kemenangan pribadi.
Jika harus memilih antara kepentingan pribadi dan tindakan yang membawa kebaikan bagi kehidupan bersama, ia semakin mampu mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas.

Hal ini tidak berarti manusia harus mengabaikan dirinya sendiri. Yang berubah adalah cara menempatkan kepentingan pribadi agar tidak merusak keselarasan dengan sesama dan lingkungan.

Lunturya Rasa "Aku" yang Sempit.
Tridaya Sampurna juga ditandai oleh semakin lunturnya rasa aku yang sempit.
Rasa aku yang sempit membuat manusia mudah membandingkan diri, merasa lebih tinggi, merasa paling benar, atau terus-menerus mengejar pengakuan.

Ketika pamrih mulai berkurang, manusia mulai memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Kesadaran tersebut menumbuhkan andhap asor.

Andhap asor bukan berarti menganggap diri tidak memiliki nilai. Sebaliknya, manusia tetap menghargai dirinya, tetapi tidak menjadikan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Ia memahami bahwa kehidupan memiliki hubungan yang saling memengaruhi.

Kaselarasan dengan Sesama dan Alam.
Tridaya Sampurna membawa manusia kepada pemahaman bahwa kehidupan tidak dapat dipisahkan dari sesama dan alam.

Manusia membutuhkan sesama dan bergantung pada lingkungan. Karena itu, tindakan yang dilakukan terhadap orang lain dan alam pada akhirnya turut memengaruhi kehidupan manusia sendiri.

Kesadaran ini melahirkan sikap yang lebih bertanggung jawab.

Manusia mulai menjaga hubungan, tidak mudah merugikan, tidak menggunakan kekuatan secara semena-mena, dan berusaha memberikan manfaat.

Kehidupan yang utama bukan hanya tentang menjadi baik untuk diri sendiri, tetapi juga mampu menjaga keselarasan dengan kehidupan di sekitarnya.

Satu Rerangkèn yang Utuh.
Pada Tridaya Sampurna, Cipta, Rasa, dan Karsa dapat dipandang sebagai satu rerangkèn yang utuh.

Cipta memberikan arah pemahaman.
Rasa memberikan kedalaman dan kepekaan.
Karsa mewujudkannya menjadi tindakan.

Jika Cipta memahami kebaikan, Rasa menghayatinya, dan Karsa menjalankannya, maka ketiganya membentuk satu kesatuan yang kuat.

Inilah yang membedakan Tridaya Sampurna dari sekadar pengetahuan atau ketenangan.
Kesempurnaan perkembangan Tridaya terlihat dari kesatuan antara apa yang dipahami, apa yang dirasakan, dan apa yang dilakukan.

Ketulusan sebagai Dasar Lampah.
Ketulusan menjadi salah satu ciri penting dalam tataran ini.

Manusia mulai melakukan kebaikan bukan karena takut kehilangan sesuatu, bukan karena ingin mendapatkan penghargaan, dan bukan semata-mata karena ingin mendapatkan pengakuan.

Ia melakukan kebaikan karena telah memahami bahwa kebaikan merupakan bagian dari kehidupan yang selaras.

Ketulusan seperti ini tidak berarti selalu berhasil dalam setiap tindakan. Manusia tetap dapat melakukan kesalahan.

Namun, ketika kesalahan terjadi, ia lebih mampu mengakuinya dan memperbaikinya tanpa mempertahankan harga diri secara berlebihan.

Tridaya Sampurna dan Lampah Utama.
Tujuan perkembangan Tridaya pada akhirnya adalah membentuk manusia yang mampu menjalankan kehidupan secara utama.

Lampah utama bukan berarti kehidupan yang bebas dari persoalan. Lampah utama berarti kemampuan menjalani berbagai keadaan dengan Cipta yang jernih, Rasa yang halus, dan Karsa yang lurus.

Manusia tetap menghadapi kesulitan, tetapi tidak mudah kehilangan arah.
Ia tetap dapat menikmati kebahagiaan, tetapi tidak mudah menjadi gumedhe.
Ia dapat memperoleh keberhasilan, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain.

Dengan demikian, Tridaya Sampurna menjadi dasar kehidupan yang semakin matang dan bertanggung jawab.

Menuju Tridaya Manunggal.
Tridaya Sampurna merupakan tataran kedelapan dan menjadi dasar menuju Tridaya Manunggal, yaitu tataran kesembilan Nawa Tridayaning Janma.

Dalam Tridaya Sampurna, Cipta, Rasa, dan Karsa telah berkembang secara utuh dan selaras.

Pada tataran berikutnya, keselarasan tersebut diarahkan menuju keadaan yang lebih menyeluruh, ketika seluruh daya manusia bergerak dalam satu tujuan kehidupan.

Dengan demikian, Tridaya Sampurna merupakan tahap pematangan sebelum memasuki tataran terakhir Nawa Tridayaning Janma.

Kesimpulan.
Tridaya Sampurna merupakan tataran kedelapan Nawa Tridayaning Janma, ketika Cipta, Rasa, dan Karsa berkembang secara utuh, selaras, jernih, dan semakin bebas dari dominasi hawa nafsu serta pamrih pribadi.

Cipta menjadi pepadhang bagi pemahaman. Rasa menjadi sumber kehalusan dan kawelasan. Karsa menjadi penggerak bagi tindakan yang baik.

Pada tahap ini, kawruh tidak lagi hanya dipahami, tetapi telah menjadi bagian dari lampah gesang. Pengetahuan, penghayatan, dan tindakan mulai membentuk satu kesatuan.

Pamrih pribadi semakin berkurang dan rasa aku yang sempit mulai luntur. Dari sana tumbuh andhap asor, ketulusan, kebijaksanaan, dan keinginan untuk menjaga keselarasan dengan sesama serta alam.

Tridaya Sampurna menunjukkan bahwa perkembangan manusia tidak cukup hanya dengan menjadi lebih tahu. Manusia juga perlu menjadi lebih halus dalam merasa dan lebih lurus dalam bertindak.

Kesatuan antara Cipta, Rasa, dan Karsa inilah yang menjadi dasar menuju tataran terakhir, Tridaya Manunggal, ketika seluruh daya manusia diarahkan dalam satu keselarasan dan tujuan kehidupan.

FAQ - Tridaya Sampurna.
1. Apa yang dimaksud dengan Tridaya Sampurna?
Tridaya Sampurna adalah tataran kedelapan Nawa Tridayaning Janma ketika Cipta, Rasa, dan Karsa berkembang secara utuh, selaras, jernih, dan semakin bebas dari pamrih pribadi.

2. Apakah Sampurna berarti manusia sudah tidak pernah melakukan kesalahan?
Tidak. Sampurna dalam konteks ini menggambarkan perkembangan dan keselarasan Cipta, Rasa, dan Karsa, bukan berarti manusia tidak mungkin melakukan kesalahan.

3. Apa ciri Cipta dalam Tridaya Sampurna?
Cipta semakin jernih dalam memahami kehidupan dan menjadi dasar bagi pertimbangan yang bijaksana tanpa terlalu dipengaruhi kepentingan pribadi.

4. Apa ciri Rasa dalam Tridaya Sampurna?
Rasa semakin halus, tulus, dan peka terhadap keadaan sesama. Dari Rasa tersebut tumbuh kawelasan, sih, dan andhap asor.

5. Apa ciri Karsa dalam Tridaya Sampurna?
Karsa semakin teguh dalam menjalankan kebaikan dan tidak mudah digerakkan oleh pamrih, pujian, keuntungan, atau kesenangan sesaat.

6. Apa hubungan Tridaya Sampurna dengan kawruh?
Dalam Tridaya Sampurna, kawruh tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan. Kawruh mulai menjadi lampah gesang yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

7. Apa yang dimaksud dengan lunturya rasa "aku" dalam Tridaya Sampurna?
Maksudnya adalah berkurangnya rasa diri yang terlalu berpusat pada kepentingan, keunggulan, dan pengakuan pribadi. Manusia mulai memahami dirinya sebagai bagian dari kehidupan yang lebih luas.

8. Apakah Tridaya Sampurna berarti harus mengabaikan kepentingan pribadi?
Tidak. Kebutuhan pribadi tetap penting. Yang berkembang adalah kemampuan menempatkan kepentingan pribadi agar tidak merusak keselarasan dengan sesama dan lingkungan.

9. Apa tataran setelah Tridaya Sampurna?
Tataran berikutnya adalah Tridaya Manunggal, yaitu tataran kesembilan ketika Cipta, Rasa, dan Karsa semakin menyatu dalam satu keselarasan dan arah kehidupan.

**Sumber artikel :
NAWA TRIDAYANING JANMA  

Komentar